di atas secarik kertas ini kugoreskan,
meski tak pernah ada kata yang pantas diucapkan
di atas belahan bumi ini kupijakkan,
meski tak ada tempat yang pantas menggantikan
membalas tulus doamu
di tempat terindah di sisimu
jika aisyah adalah wanita paling mulia,
maka bagiku engkaulah wanita paling mulia
jika cleopatra adalah wanita paling cantik,
maka bagiku engkaulah wanita paling cantik
jika kartini adalah wanita paling berkarisma saat itu,
maka bagiku engkaulah wanita paling berkarisma saat ini, dulu, dan sampai nanti
ibu...
meski sekilas kau tampak nyaman dalam singgasanamu
meski sekilas kau tampak anggun dalam bahasa tubuhmu
meski sekilas kau tampak kuat dalam cobaan hidupmu...
tak ada yang tahu...
begitu berat beban di pundakmu,menyaingi beratnya kiloan baja
begitu banyak kasus pelik menimpamu, mengalahkan jutaan bintang di angkasa
begitu luas beban tanggungjawabmu, hingga mampu menampis hamparan samudera,
begitu deras ujian menghadangmu,sederas hujan badai dunia
sampai terbersit dalam pikirku,
ibu mana yang sanggup menggantikanmu
dari urusan dapur hingga masalah negara,
dari urusan satu dua anak, sampai ribuan,
dari mengandung, menyusui hingga membesarkan
dari mengeja, mendidik dan menyekolahkan, sampai menikahkan,
dari merintis, mengelola, sampai mensukseskan,
betapa tidak engkau terlihat lebih tua dibandingkan wanita seusiamu,
betapa tidak guratan kerut dan helaian uban satu persatu menghampirimu,
tanpa mengharap imbalan,
malah bentakan,
tanpa mengharap jasa,
malah luapan amarah,
tak banyak yang mengertimu,
hanya senyum tulus yang kau harap,
hanya kesuksesan anak didik yang kau ingin,
hanya sentuhan kasih dan saling peduli yang ingin kau lihat,
hanya kedamaian,
tak salah orang memanggilmu,
"wahai, jiwa yang tenang..."
sungguh,,,
akan kupetikkan bintang yang paling terang untukmu,
akan kubawa bersama doa restumu,
sebagai kepakan sayap terindahku,
tak ada yang seindah sunggingan senyum di bibirmu,
dan tak ada yang seindah kepakan sayapmu
Jakarta,
26 september 2010
Tidak ada komentar:
Posting Komentar