Jibril: “Iqra’ yaa Muhammad!!” (bacalah wahai Muhammad!!)
Muhammad: “Maa ana biqaari’in…” (saya tidak bisa membaca)
Dalam dekapan rapat hingga dada tak sanggup menghembuskan nafas, malaikat jibril memeluk erat Rasulullah ketika beliau sedang duduk beri’tikaf di gua hira,
Ketika perintah itu dibacakan ketiga kalinya, nabi Muhammad tetap dengan jawabannya, bahwasanya beliau tidak menolak kenyataan bahwa dirinya tidak bisa membaca dan menulis, hingga akhirnya wahyu pertama itu turun,
“iqra’ bismirobbikalladzi kholaq…”
Perintah membaca jauh lebih dahulu dibandingkan perintah shalat dan ibadah lainnya, betapa perintah menuntut ilmu itu jauh lebih dahulu dibandingkan perintah untuk beribadah, karena ibadah tidak akan ada artinya tanpa ilmu, ibarat sebuah HP, powernya adalah ilmu, sehingga ibadah kita perlu di charge dengan ilmu kita, telah banyak terjadi di sekitar kita orang-orang dengan ambisi ibadah tapi tidak diimbangi dengan ilmu yang akhirnya ibadah yang dikerjakan mengarah kepada kesesatan. Naudzubillahi min dzalik..
Betapa ilmu itu sangat dihargai dalam islam, betapa tinggi derajat orang berilmu di mata Allah, dan semulia-mulia ilmu adalah Al-qur’an
Pepatah arab menyatakan:
“al-qur’an asyroful kutub fil ‘alam, fa asyroful ‘ulum ta’limul qur’an, fa asyrofunnas man ta’allamal qur’an”
Al-qur’an merupakan kitab yang paling mulia di seluruh dunia, maka ilmu yang paling mulia adalah ilmu al-qur’an, dan maka orang yang paling mulia adalah orang yang mempelajari al-qur’an.
Sehingga jelas bahwa bukan orang yang paling tinggi kedudukannya di dunia atau orang yang paling kaya yang paling mulia, tetapi orang yang paling mulia adalah orang yang mempelajari al-qur’an.
Al-qur’an yang karena keagungannya sehingga Allah menurunkannya di malam yang spesial pula, malam yang lebih baik dari 1000 bulan. Selain itu Allah memilih bulan Ramadhan, bulan yang sungguh mulia juga, dimana disitu dibuka pintu kebaikan dan pintu pengampunan. Betapa agungnya Al-Qur’an itu.
Dalam surat al-qadar dipaparkan dengan jelas betapa Allah mengagungkan al-qur’an. Al-qadar itu sendiri berarti agung. Dalam bahasa arab, qadar bisa berarti banyak. “syahadatutaqdir” artinya piagam penghargaan, “nahnu nuqoddiruhu bi’ilmihi” artinya kita memuliakannya karena ilmunya, “innallaha ‘ala kulli syai’in qodiir” sesungguhnya Allah Maha kuasa atas segala sesuatu, “al-imaanu bil qodho’ wal qodar” percaya kepada ketetapan Allah, “lailatul qadar” berarti malam keagungan
Pada ayat pertama surat al-qadar Allah menekankan dua hal, yang pertama adalah al-qur’an dan yang kedua adalah lailatul qadar, al-qur’an kitab yang agung diturunkan pada malam yang agung, malam tersebut agung bukan karena turunnya al-qur’an tetapi memang sudah agung sebelum turunnya al-qur’an.
Disitu bahasa arab menurunkan menggunakan kata “anzala”, sedangkan beberapa kata di qur’an menggunakan kata “nazzala”, sering ditanyakan oleh dosen atau guru kita, perbedaan kata “anzala” dengan “nazzala”, kalau “anzala” artinya “menurunkan secara langsung” sedangkan “nazzala” artinya “menurunkan secara bertahap”. Ada dua proses penurunan al-qur’an
- “anzalnal qur’an duf’atan wahidatan minallauhil mahfudz ila sama’I dunya” (telah kami turunkan al-qur’an secara langsung dari lauhul mahfudz ke langit dunia)
- “tsumma nazzalnal qur’an nujuman minassama’iddunya ila rosulillahi shollallau alaihi wasallam” (kemudian kami turunkan al-qur’an secara berangsur-angsur dari langit dunia kepada rasulullah SAW)
“innaa” merupakan harf tauqid, karena al-qur’an merupakan kitab yang agung, serius, tidak main-main, sehingga di sini Allah menggunakan huruf penekanan.
“anzalna” dipakai karena Allah menurunkan secara langsung, untuk itulah Al-qur’an bukan kitab biasa
“hu” disini digunakan kata ganti, Allah tidak menggunakan kata “al-qur’an” karena Allah benar-benar mengagunkannya, sebagai contoh jika seorang istri memanggil suaminya, karena penghormatan tidaklah mungkin istri tersebut memanggil nama suaminya secara langsung, tetapi menggunakan kata ganti.
Pada ayat kedua surat al-qadar ini disebutkan seolah-olah sebuah kalimat pertanyaan, tetapi sesungguhnya ini bukan kalimat pertanyaan.
Sebagai contoh di dunia nyata kita, misalnya ada presiden datang ke kampong kita, kemudian kita bertanya “tau gak sih kamu dia siapa?”, pertanyaan tersebut bermaksud karena saking agung dan tingginya al-qur’an.
ya, jelas bahwa malam lailatul qadar lebih baik dari seribu bulan, karena apa? Karena mala mini sangat istimewa, dijelaskan pada ayat ini bahwa malam lailatul qadar lebih baik dari malam 1000 bulan, pada ayat selanjutnya dijelaskan pula:
Karena pada malam itu, Allah lebih menyukai tangisan hambaNya dibandingkan suara tashbih para malaikatNya (kapan lagii cobaa….??), pada malam itu, semua malaikat termasuk jibril (al-ruh) diperintahkan untuk turun, menjaga agar malam itu senantiasa sejahtera, mengatur angin dan cuaca, mengatur segala urusan Allah.
Menjaga kesejahteraan dan kedamaian hingga terbit fajar. Sehingga berakhirlah malam lailatul qadar.
Semoga jangan sampai kita menyia-nyiakan kesempatan yang Allah berikan pada malam lailatul qadar, malam yang sangat istimewa, shalat kita pada malam itu lebih baik dari shalat kita selama 1000 bulan = 83 tahun 4 bulan, jadi semoga kita termasuk orang-orang yang bisa memanfaatkan malam lailatul qadar tersebut.
Sekarang kita terlalu banyak disibukkan oleh urusan dunia kita, sehingga kita beralasan untuk tidak membaca al-qur’an, dan hanya bisa berkata “Tuhan, maaf saya sibuk”, sungguh malu rasanya, nabi Muhammad dengan berjuta-juta kasus peliknya, beliau adalah pemimpin Negara, pemimpin ummat, tetapi al-qur’an tak pernah sekalipun beliau singkirkan dalam hidupnya, hanya satu malam lailatul qadar dalam hidupnya yang beliau tinggalkan, tapi kita hanya berdalih “maaf Tuhan, saya seorang mahasiswa dengan setumpuk tugas yang harus diselesaikan, saya seorang koas dengan segudang masalah dan deadline yang harus dikerjakan, saya seorang karyawan yang jika tidak melaksanakan perintah maka saya akan dipecat oleh bos saya, saya seorang pejabat Negara, saya seorang presiden…..”
Na’udzubillahi mindzalik, betapa malu kita menjadi ummat nabi Muhammad jika kita lebih takut untuk meninggalkan urusan dunia dibandingkan urusan akhirat kita, betapa bodohnya kita jika kita lebih rela berjam-jam mengurus harta dan dunia kita daripada untuk duduk membaca al-qur’an dan mempelajari ilmuNya. Betapa tidak tahu dirinya kita jika kita lebih memilih bergadang untuk uang dibandingkan bangun malam untuk mendirikan shalat. Betapa banyak urusan Allah yang telah kita singkirkan dari kehidupan kita. Mari kita selalu bermuhasabah, evaluasi diri, sering-sering menge-charge iman kita dengan ilmu yang bisa kita dapat dimana saja. Kesempatan selalu ada, hanya pilihan untuk menggunakannya ada di tangan kita.
sebenarnya saya memimpikan bisa menuliskan seperti tulisan Fahd Djibran,, tapi itu terlalu membual, hasilnya masih tetap monoton, tetapi tetap seperti harapan saya, semoga setetes tinta mampu menggerakkan seribu manusia, jadi apapun hasilnya, ini masih dalam tahap pembelajaran, jadi mohon maaf jika banyak kesalahan dalam berkata, berbahasa, sangat menerima koreksi pembaca, maaf banyak kalimat bahasa arab yang diketik dengan bahasa latin (gak punya font nya..) harap maklum,,, terimakasih.. semoga bermanfaat...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar