Kita tahu bahwa hidup ini penuh dengan pilihan. Sampai anda
mau membaca notes ini, itu adalah pilihan. Notes ini saya buat setelah menerima
kajian dari ust.amir di masjid ELNUSA dalam kajian tafsir qur’an juz 30 setiap
hari Rabu. Pilihan untuk menulis atau tidak adalah saya yang menentukan. Pilihan
untuk membaca atau tidak adalah anda yang menentukan. Mau membaca artinya anda tertarik dengan
secercah kebaikan yang bisa kita pelajari dari al-qur’an, atau tidak mau
membacanya artinya anda tidak tertarik untuk menerima ajaran kebaikan ini.
Begitu juga dengan seseorang yang bernama “abu lahab”.
Menjadi seseorang yang hingga dilaknat oleh Allah adalah juga pilihan.
Jika kita ingin belajar ilmu mengenai takdir, maka pahamilah
jenis-jenis takdir di bawah ini. Bahwa takdir ada 3 macam:
1.
Allah yang menentukan tanpa bisa diintervensi
oleh manusia.
Misalnya bentuk wajah, dari ibu siapa kita
dilahirkan, warna kulit, dsb. Karena hal tersebut Allah yang menentukan maka tidak
ada hubungannya dengan syurga maupun neraka
2.
Allah yang menentukan tapi manusia wajib
berusaha, namun usaha tidak menjamin.
Misalnya kaya atau miskin.
Karena usaha tidak menjamin, maka hal ini
tidak dihubungkan dengan surga atau neraka. Banyak orang sudah berusaha namun
masih saja tetap miskin, banyak pula orang hanya duduk namun kaya, contohnya
bayi dari seorang raja baru lahir sudah kaya. Banyak orang miskin menjadi ahli
juga, begitupun sebaliknya banyak orang kaya jadi ahli neraka. Namun zaman
sekarang ini rasaya orang miskin sama sekali tidak dianggap. Jika seorang
ustadz pergi memberikan kajian menumpang becak ke tempat kajian, maka banyak
dicemooh dan tidak dihargai, jika ustadz tersebut mengendari mobil mewah,
barulah disanjung-sanjung dan sangat dihargai.
3.
Allah menentukan pilihan dan manusia diberi
kemampuan untuk memilih sehingga manusia wajib berusaha menentukan pilihannya
Jika manusia berbuat kebaikan maka
ganjarannya pahala, sebaliknya jika berbuat kemungkaran maka ganjarannya dosa.
Hal inilah yang dikaitkan dengan syurga dan neraka.
Apakah menurut anda seorang abu lahab sengaja ditakdirkan
oleh Allah menjadi orang yang jahat? Tidak. Allah sudah memberikan ia pilihan,
bahkan Allah memberikan contoh seorang Nabi di depan matanya. Abu Lahab adalah
contoh nyata seseorang yang telah menyia-nyiakan pilihan yang Allah berikan.
Mari kita masuk ke tafsir qur’an surat al-lahab ini.
Al-lahab dalam bahasa arab berarti gejolak api. Mengapa
surat ini disebut al-lahab? Karena pada ayat pertama terdapat kata al-lahab.
Surat ini juga ada beberapa yang menamakan al-masad, karena pada akhir ayat
terdapat kata al-masad.
Surat ini mengisahkan tentang zaman Rasulullah SAW, ada
seseorang yang selalu bergejolak hingga diberi julukan “abu lahab”. Setiap
Rasulullah bergerak sedikit untuk maju, selalu ada yang berapi-api. Inilah dia
paman beliau sendiri, abu lahab.
Ketika zaman nabi Musa orang yang paling ingkar adalah
Fir’aun, manusia yang lebih berbahaya dibandingkan iblis. Karena iblis tak
pernah menganggap dirinya sebagai tuhan. Ketika zaman Rasulullah ada Abu Lahab.
Perbedaan antara keduanya adalah bahwa istri fir’aun yang bernama Asiyah
merupakan seseorang yang beriman karena syari’at sebelumnya membolehkan wanita
beriman menikah dengan lelaki kafir baik itu ahli kitab maupun orang musyrik,
syari’at pada zaman nabi Adam membolehkan menikah dengan saudara kandung asal
bukan saudara kembar karena jumlah orang masih sedikit. Pada zaman Rasulullah,
syariat telah disempurnakan, maka laki-laki beriman hanya untuk perempuan beriman
begitu juga sebaliknya. Istri abu lahab
yang bernama umu jamil ini juga sama kafirnya. Dia adalah contoh istri yang
taat pada suami bahkan dalam hal keburukan. Padahal dalam agama kita telah
jelas bahwa “laa tho’ata limakhluqin fii ma’shiyatil kholiq” (tidak ada
ketaatan bagi seorang makhluk dalam kemaksiatan terkhadap Sang Khalik), baik
itu kepada orang tua, suami/istri, keluarga, dan makhluk lainnya.
Begitulah Allah menggambarkan bahwa ada kisah-kisah yang
belum tentu suami dan istri seimbang dan sama aqidah dan akhlaknya. Begitu pula
dengan kisah nabi Nuh as dan nabi Luth as. Dan begitulah Allah menggambarkan
syari’at dahulu dan sekarang berbeda.
Dalam Q.S. Al-Maidah ayat 48 menjelaskan bahwa setiap kitab
yang dibawa oleh rasul-rasul sebelumnya mengandung syari’at2 lokal, sedangkan
sifat al-qur’an adalah universal. Dalam surat an-Nisa’: 46, al-Maidah: 13 dan
al-Maidah:41 kata-kata “yuharrifunal kalmia” diulang-ulang, menjelaskan bahwa
dalam ajaran-ajaran kitab terdahulu, agama Islam telah dibenarkan adanya, Nabi
Muhammad ada dan mereka mempercayainya sebagai nabi terakhir bahkan sebelum nabi
Muhammad lahir, namun dalam surat-surat tersebut Allah berfirman bahwa
kitab-kitab tersebut telah diganti isi kandungannya, karena meski mereka tahu
kebenaran, tetapi mereka tidak mau mengakuinya. Kebanyakan peneliti-peneliti
bertanya “jika kitab-kitab tersebut benar, mengapa ada revisi?”, namun
buku-buku keagaman di negara barat susah mendapatkan izin publish, sehingga
masyarakatnya cenderung atheis. Meskipun tempat peribadatan terkadang beberapa
penuh, namun hanyalah suatu formalitas.
Dalam ayat pertama disebutkan kata “tabbat” yang artinya
celakalah, lafadz ini langsung diwahyukan pada Nabi setelah abu lahab sering
menggunakan kata itu untuk mengumpat nabi SAW. Dalam tafsir ibnu katsir
terdapat hadist dari Abbas dari Nabi SAW menjelaskan ketika nabi pergi ke pasar
kemudian nabi menaiki gunung dan menyeru “yaa shahabaa” kemudian berkumpullah
orang-orang quraisy, karena dalam benak orang-orang quraisy nabi dikenal
sebagai al-amin (yang terpercaya).
Subhanallah bayangkan jika zaman ini kemauan berdakwah orang
islam seperti zaman itu, setiap pergi ke pasar, berdakwah, pergi kemanapun,
berdakwah. Sedangkan tatkala kita pergi ke mall, semua buyar. Bahkan shalatpun
terkadang lupa. Naudzubillah min dzalik.
Kemudian Nabi bersabda: “apakah kalian tau jika saya
menceritakan kepada kalian ada musuh yang menyerang kita saat pagi atau sore
hari, apakah kalian akan mempercayaiku?”
Begitulah teknik komunikasi Rasulullah SAW. Teknik dakwah
yang diajarkan oleh rasulullah dan sopan santun ketika pertama kali bertemu
dengan orang lain. Yang dilontarkan adalah sebuah pertanyaan, bukan langsung
memerintah untuk mempercayainya.
Ketika itu, ada seseorang berkata “alihadza jama’tana? (apakah
hanya untuk ini kamu mengumpulkan kami?) Tabban
laka (celakalah kamu)” , ketika seseorang menanyakan siapakah orang itu?
Mereka menjawab, dia adalah paman nabi, abu lahab. Maka langsung Allah wahyukan ayat tersebut dan berbunyi
“tabbat yadaa abi lahab” kemudian kata terakhir yang berbunyi “wa tabb” itu
merupakan suatu penegasan bahwa ia akan benar-benar celaka.
“yadaa” yang artinya kedua tangan, dalam bahasa arab sering
dikiaskan, bukan berarti hanya kedua tangan yang terbakar, tapi juga seluruh
tubuhnya, seluruh masa depannya.
Dalam ayat kedua disebutkan yang artinya :
“harta dan apa yang
ia peroleh tidak akan ada gunanya”.
Dalam usaha untuk menghambat dakwah Rasulullah, semua ia
korbankan. Harta, waktu, tenaga dan pikiran semua ia kerahkan untuk menghambat
dakwah Rasul. Namun dalam al-qur’an dijelaskan bahwa itu tidak akan ada
gunanya. Itu adalah contoh bahwa harta dan apapun yang kita usahakan dalam
kemaksiatan tidak akan ada gunanya.
Ayat ketiga berbunyi:
سَيَصْلَى نَارًا ذَاتَ لَهَبٍ
“ia akan dimasukkan ke dalam api yang menyala”
Ayat keempat berbunyi:
“dan (begitu pula) istrinya pembawa kayu bakar”
Istri Abu Lahab merupakan salah satu
tokoh wanita Quraisy. Namanya adalah Auraa’ bintu Harb bin Umayyah kunyahnya
Ummu Jamil, saudara perempuannya Abu Sufyan (bapaknya Muawiyyah). Sebagaimana
suaminya, ia juga merupakan wanita yang paling besar gangguan dan permusuhannya
terhadap Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam. Ia dan suaminya bahu-membahu dalam permusuhan dan dosa. Ia
curahkan segenap daya dan upayanya untuk mengganggu dan memusuhi beliau shalallahu ‘alaihi wasallam. Pernah ia membawa dahan yang penuh duri, lalu ia tebarkan di
jalan yang sering dilalui oleh Rasulullah pada waktu malam, sehingga melukai
beliau dan para shahabatnya.
Maka terkumpullah di punggung wanita
jahat ini dosa-dosa, seolah orang yang mengumpulkan kayu bakar yang telah
mempersiapkan seutas tali di lehernya. Atau ayat ini bermakna pula di dalam
neraka wanita ini membawa kayu bakar untuk menyiksa suaminya sambil melilitkan
dilehernya seutas tali dari sabut. Sedangkan Ibnu ‘Abbas, Mujahid, Qatadah dan
As-Sa’dy menafsirkan ayat ini dengan namimah. Maksudnya istri Abu Lahab
profesinya sebagai tukang fitnah. Al-Imam Muhammad bin Sirin rahimahullah
(salah seorang tokoh besar dan ulama` tabi’in) berkata: “Istrinya Abu Lahab
memfitnah Rasulullah dan para sahabatnya kepada musyrikin.” (Fathul Bari dan Tafsir Ibnu
Katsir)
Ayat
kelima
فِيْ جِيْدِهَا حَبْلٌ مِنْ مَسَدَ
“Yang dilehernya ada tali dari
sabut.”
Al-Imam Al-Fara mengatakan: “Al-Masad adalah rantai yang
ada di neraka, dan disebut juga tali dari sabut.” (Fathul Bari)
Dua ayat terakhir menggambarkan keadaan awal dan keadaan di
akhir.
Alhamdulillah akhirnya selesai menuliskan ini. Semoga apa
yang telah saya tuliskan dapat bermanfaat bagi yang membacanya. Semoga dengan contoh ini kita dapat sama-sama
belajar.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar