mencoba menorehkan sebuah tinta hitam kehidupan... karena sejarah dicatat hanya dengan dua nuansa warna.. merah darah para pejuang dan tinta hitam para penulis....

Sabtu, 15 Desember 2012

AL-LAHAB


Kita tahu bahwa hidup ini penuh dengan pilihan. Sampai anda mau membaca notes ini, itu adalah pilihan. Notes ini saya buat setelah menerima kajian dari ust.amir di masjid ELNUSA dalam kajian tafsir qur’an juz 30 setiap hari Rabu. Pilihan untuk menulis atau tidak adalah saya yang menentukan. Pilihan untuk membaca atau tidak adalah anda yang menentukan.  Mau membaca artinya anda tertarik dengan secercah kebaikan yang bisa kita pelajari dari al-qur’an, atau tidak mau membacanya artinya anda tidak tertarik untuk menerima ajaran kebaikan ini.
Begitu juga dengan seseorang yang bernama “abu lahab”. Menjadi seseorang yang hingga dilaknat oleh Allah adalah juga pilihan.
Jika kita ingin belajar ilmu mengenai takdir, maka pahamilah jenis-jenis takdir di bawah ini. Bahwa takdir ada 3 macam:
1.       Allah yang menentukan tanpa bisa diintervensi oleh manusia.
Misalnya bentuk wajah, dari ibu siapa kita dilahirkan, warna kulit, dsb. Karena hal tersebut Allah yang menentukan maka tidak ada hubungannya dengan syurga maupun neraka
2.       Allah yang menentukan tapi manusia wajib berusaha, namun usaha tidak menjamin.
Misalnya kaya atau miskin.
Karena usaha tidak menjamin, maka hal ini tidak dihubungkan dengan surga atau neraka. Banyak orang sudah berusaha namun masih saja tetap miskin, banyak pula orang hanya duduk namun kaya, contohnya bayi dari seorang raja baru lahir sudah kaya. Banyak orang miskin menjadi ahli juga, begitupun sebaliknya banyak orang kaya jadi ahli neraka. Namun zaman sekarang ini rasaya orang miskin sama sekali tidak dianggap. Jika seorang ustadz pergi memberikan kajian menumpang becak ke tempat kajian, maka banyak dicemooh dan tidak dihargai, jika ustadz tersebut mengendari mobil mewah, barulah disanjung-sanjung dan sangat dihargai.
3.       Allah menentukan pilihan dan manusia diberi kemampuan untuk memilih sehingga manusia wajib berusaha menentukan pilihannya
Jika manusia berbuat kebaikan maka ganjarannya pahala, sebaliknya jika berbuat kemungkaran maka ganjarannya dosa. Hal inilah yang dikaitkan dengan syurga dan neraka.
Apakah menurut anda seorang abu lahab sengaja ditakdirkan oleh Allah menjadi orang yang jahat? Tidak. Allah sudah memberikan ia pilihan, bahkan Allah memberikan contoh seorang Nabi di depan matanya. Abu Lahab adalah contoh nyata seseorang yang telah menyia-nyiakan pilihan yang Allah berikan.
Mari kita masuk ke tafsir qur’an surat al-lahab ini.
Al-lahab dalam bahasa arab berarti gejolak api. Mengapa surat ini disebut al-lahab? Karena pada ayat pertama terdapat kata al-lahab. Surat ini juga ada beberapa yang menamakan al-masad, karena pada akhir ayat terdapat kata al-masad.
Surat ini mengisahkan tentang zaman Rasulullah SAW, ada seseorang yang selalu bergejolak hingga diberi julukan “abu lahab”. Setiap Rasulullah bergerak sedikit untuk maju, selalu ada yang berapi-api. Inilah dia paman beliau sendiri, abu lahab.
Ketika zaman nabi Musa orang yang paling ingkar adalah Fir’aun, manusia yang lebih berbahaya dibandingkan iblis. Karena iblis tak pernah menganggap dirinya sebagai tuhan. Ketika zaman Rasulullah ada Abu Lahab. Perbedaan antara keduanya adalah bahwa istri fir’aun yang bernama Asiyah merupakan seseorang yang beriman karena syari’at sebelumnya membolehkan wanita beriman menikah dengan lelaki kafir baik itu ahli kitab maupun orang musyrik, syari’at pada zaman nabi Adam membolehkan menikah dengan saudara kandung asal bukan saudara kembar karena jumlah orang masih sedikit. Pada zaman Rasulullah, syariat telah disempurnakan, maka laki-laki beriman hanya untuk perempuan beriman begitu juga sebaliknya.  Istri abu lahab yang bernama umu jamil ini juga sama kafirnya. Dia adalah contoh istri yang taat pada suami bahkan dalam hal keburukan. Padahal dalam agama kita telah jelas bahwa “laa tho’ata limakhluqin fii ma’shiyatil kholiq” (tidak ada ketaatan bagi seorang makhluk dalam kemaksiatan terkhadap Sang Khalik), baik itu kepada orang tua, suami/istri, keluarga, dan makhluk lainnya.
Begitulah Allah menggambarkan bahwa ada kisah-kisah yang belum tentu suami dan istri seimbang dan sama aqidah dan akhlaknya. Begitu pula dengan kisah nabi Nuh as dan nabi Luth as. Dan begitulah Allah menggambarkan syari’at dahulu dan sekarang berbeda.
Dalam Q.S. Al-Maidah ayat 48 menjelaskan bahwa setiap kitab yang dibawa oleh rasul-rasul sebelumnya mengandung syari’at2 lokal, sedangkan sifat al-qur’an adalah universal. Dalam surat an-Nisa’: 46, al-Maidah: 13 dan al-Maidah:41 kata-kata “yuharrifunal kalmia” diulang-ulang, menjelaskan bahwa dalam ajaran-ajaran kitab terdahulu, agama Islam telah dibenarkan adanya, Nabi Muhammad ada dan mereka mempercayainya sebagai nabi terakhir bahkan sebelum nabi Muhammad lahir, namun dalam surat-surat tersebut Allah berfirman bahwa kitab-kitab tersebut telah diganti isi kandungannya, karena meski mereka tahu kebenaran, tetapi mereka tidak mau mengakuinya. Kebanyakan peneliti-peneliti bertanya “jika kitab-kitab tersebut benar, mengapa ada revisi?”, namun buku-buku keagaman di negara barat susah mendapatkan izin publish, sehingga masyarakatnya cenderung atheis. Meskipun tempat peribadatan terkadang beberapa penuh, namun hanyalah suatu formalitas.
Dalam ayat pertama disebutkan kata “tabbat” yang artinya celakalah, lafadz ini langsung diwahyukan pada Nabi setelah abu lahab sering menggunakan kata itu untuk mengumpat nabi SAW. Dalam tafsir ibnu katsir terdapat hadist dari Abbas dari Nabi SAW menjelaskan ketika nabi pergi ke pasar kemudian nabi menaiki gunung dan menyeru “yaa shahabaa” kemudian berkumpullah orang-orang quraisy, karena dalam benak orang-orang quraisy nabi dikenal sebagai al-amin (yang terpercaya).
Subhanallah bayangkan jika zaman ini kemauan berdakwah orang islam seperti zaman itu, setiap pergi ke pasar, berdakwah, pergi kemanapun, berdakwah. Sedangkan tatkala kita pergi ke mall, semua buyar. Bahkan shalatpun terkadang lupa. Naudzubillah min dzalik.
Kemudian Nabi bersabda: “apakah kalian tau jika saya menceritakan kepada kalian ada musuh yang menyerang kita saat pagi atau sore hari, apakah kalian akan mempercayaiku?”
Begitulah teknik komunikasi Rasulullah SAW. Teknik dakwah yang diajarkan oleh rasulullah dan sopan santun ketika pertama kali bertemu dengan orang lain. Yang dilontarkan adalah sebuah pertanyaan, bukan langsung memerintah untuk mempercayainya.
Ketika itu, ada seseorang berkata “alihadza jama’tana? (apakah hanya untuk ini kamu mengumpulkan kami?) Tabban laka (celakalah kamu)” , ketika seseorang menanyakan siapakah orang itu? Mereka menjawab, dia adalah paman nabi, abu lahab. Maka langsung  Allah wahyukan ayat tersebut dan berbunyi “tabbat yadaa abi lahab” kemudian kata terakhir yang berbunyi “wa tabb” itu merupakan suatu penegasan bahwa ia akan benar-benar celaka.
“yadaa” yang artinya kedua tangan, dalam bahasa arab sering dikiaskan, bukan berarti hanya kedua tangan yang terbakar, tapi juga seluruh tubuhnya, seluruh masa depannya.
Dalam ayat kedua disebutkan yang artinya :
 “harta dan apa yang ia peroleh tidak akan ada gunanya”.
Dalam usaha untuk menghambat dakwah Rasulullah, semua ia korbankan. Harta, waktu, tenaga dan pikiran semua ia kerahkan untuk menghambat dakwah Rasul. Namun dalam al-qur’an dijelaskan bahwa itu tidak akan ada gunanya. Itu adalah contoh bahwa harta dan apapun yang kita usahakan dalam kemaksiatan tidak akan ada gunanya.
Ayat ketiga berbunyi:
سَيَصْلَى نَارًا ذَاتَ لَهَبٍ
“ia akan dimasukkan ke dalam api yang menyala”
Ayat keempat berbunyi:
“dan (begitu pula) istrinya pembawa kayu bakar”
Istri Abu Lahab merupakan salah satu tokoh wanita Quraisy. Namanya adalah Auraa’ bintu Harb bin Umayyah kunyahnya Ummu Jamil, saudara perempuannya Abu Sufyan (bapaknya Muawiyyah). Sebagaimana suaminya, ia juga merupakan wanita yang paling besar gangguan dan permusuhannya terhadap Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam. Ia dan suaminya bahu-membahu dalam permusuhan dan dosa. Ia curahkan segenap daya dan upayanya untuk mengganggu dan memusuhi beliau shalallahu ‘alaihi wasallam. Pernah ia membawa dahan yang penuh duri, lalu ia tebarkan di jalan yang sering dilalui oleh Rasulullah pada waktu malam, sehingga melukai beliau dan para shahabatnya.
Maka terkumpullah di punggung wanita jahat ini dosa-dosa, seolah orang yang mengumpulkan kayu bakar yang telah mempersiapkan seutas tali di lehernya. Atau ayat ini bermakna pula di dalam neraka wanita ini membawa kayu bakar untuk menyiksa suaminya sambil melilitkan dilehernya seutas tali dari sabut. Sedangkan Ibnu ‘Abbas, Mujahid, Qatadah dan As-Sa’dy menafsirkan ayat ini dengan namimah. Maksudnya istri Abu Lahab profesinya sebagai tukang fitnah. Al-Imam Muhammad bin Sirin rahimahullah (salah seorang tokoh besar dan ulama` tabi’in) berkata: “Istrinya Abu Lahab memfitnah Rasulullah dan para sahabatnya kepada musyrikin.” (Fathul Bari dan Tafsir Ibnu Katsir)
Ayat kelima
فِيْ جِيْدِهَا حَبْلٌ مِنْ مَسَدَ
Yang dilehernya ada tali dari sabut.”
Al-Imam Al-Fara mengatakan: “Al-Masad adalah rantai yang ada di neraka, dan disebut juga tali dari sabut.” (Fathul Bari)

Dua ayat terakhir menggambarkan keadaan awal dan keadaan di akhir.
Alhamdulillah akhirnya selesai menuliskan ini. Semoga apa yang telah saya tuliskan dapat bermanfaat bagi yang membacanya.  Semoga dengan contoh ini kita dapat sama-sama belajar. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar