“Tidak ada paksaan dalam agama”
Ya, kalimat itu sudah seringkali kita dengar. Tetapi apakah
itu berarti seperti ini?
“gue mau shalat atau gak, mau berjilbab atau
gak, suka-suka gue dong.. kan tidak ada paksaan dalam agama. Dalam agama harus
sepenuh hati, menjalaninya dengan IKHLAS”
Ketika mendengar kalimat itu, saya merasa takut jika banyak
orang berfikiran yang sama. Benak saya langsung seketika berjalan mundur pada
suatu memori dalam sebuah masjid dengan jama’ah kajian tafsir qur’an, saya
menyaksikan seorang muallaf mengucapkan kalimat “asyhaduanlaa ilaahaillallah,
wa asyhadu anna muhammadan rasulullah”, meski sambil tertatih-tatih membacanya,
namun terdengar begitu dalam dan menunjukkan suatu niat yang tulus. Sang ustadz
terus melatihnya dengan al-qur’an di atasnya. Meski merinding mendengar dua
kalimat syahadat itu diucapkan, namun ada rasa bahagia dan perasaan menang.
Ketika itu ustadz bertanya “apa anda siap masuk islam? Siap menerima segala
aturan di dalamnya?” dengan segala kepasrahan muallaf itupun menjawab “saya
siap”
Kemudian ustadz itu menjelaskan bahwa “laa ikrooha fiddin”,
tidak ada paksaan dalam agama. Terserah kamu mau masuk islam, Kristen, hindu,
budha, atau agama lain, maka tidak ada paksaan. tetapi jika kamu sudah masuk ke
dalam suatu agama, maka wajib hukumnya mengikuti aturan yang ada di dalamnya.
Sama halnya ketika memilih universitas, kita diberi
kebebasan memilih apakah universitas islam, universitas Indonesia, dll. Namun
ketika kita sudah memasuki universitas tersebut maka wajib hukumnya kita
mematuhi aturan di dalamnya. Contoh saja adanya aturan berjilbab pada
universitas islam. Wah,, sungguh menakjubkan. Semua mahasiswanya berjilbab,
tetapi ketika diluar, saya tak tau.
Begitu hebatnya sebuah universitas islam yang hanya memiliki
gedung bertingkat satu lokal. Mahasiswanya begitu taat dan patuh karena takut
terhadap konsekuensi akademisnya. Sedangkan jika dibandingkan dengan Allah,
maka universitas itu bukanlah apa-apa dan tidak bisa dibandingkan sama sekali,
mereka hanya memberikan harapan masa depan cerah meski semua keputusan adalah
hak veto Allah, tapi tak sadarkah kita atau lupakah kita bahwa Allahlah yang
punya segala isi dunia dan akhirat. Dan jika melanggar perintahNya, hukumannya
jauh lebih besar dibandingkan sekedar konsekuensi akademis. Tapi mengapa kita
lebih bisa taat pada peraturan lokal? Mengapa kita hanya berkerudung saat hanya
di kampus?
Jika begitu, bukankah itu sama halnya dengan kisah seorang
perempuan bernama saidah al-usdiyah? Bahkan Allah mengukuhkannya dalam al-qur’an
surat an-nahl. “janganlah engkau seperti seorang perempuan yang memintal benang
kemudian mengurainya lagi”.
***
Seringkali kalimat tersebut ternyata menjadi senjata buat
ngeles. Dan bahkan menyebut-nyebut kata ikhlas. Sudah tau “ikhlas” itu ilmu
yang paling susah diaplikasikan, tetapi masih tetap saja buat senjata ngeles.
Kalau nunggu sampe ikhlas, mau kapan kita mendirikan shalat?
Mau kapan kita berjilbab? Mau kapan kita berbuat baik? Padahal ajal tak pernah
memberi kabar kapan ia datang, malaikat izrail tak pernah memberi aba-aba kapan
ia akan mencabut nyawamu.
Kebaikan itu tak memperdulikan niat awal kita seperti apa.
Bahkan jika kita mau berjilbab agar dilirik sama si A, kita mau shalat agar
saat itu kita mendapatkan keberuntungan duniawi. Niatan-niatan itu memang
salah, tetapi kebaikan itu memerlukan sebuah habits yang kita bentuk, meskipun
awalnya setengah maksa, maka lama-kelamaan niat ikhlas sedikit demi sedikit
bisa dipelajari. Daripada dari awal tak pernah mau berjilbab, tak pernah mau
shalat karena paksaan, mau sampai kapan kita mendapatkan keikhlasan jika tak
dicoba untuk dilatih?
Tapi masih saja ada yang berdalih “saya lebih suka melihat cewek yang hatinya baik meskipun tidak berjilbab,
daripada yang berjilbab tapi hatinya busuk”. Taukah kamu bahwa Berjilbab
tak selalu berbanding lurus dengan kebaikan. Tetapi setidaknya belajar berjilbab juga
belajar untuk mematuhi ajaran kebaikan. Namanya juga masih belajar, dan ilmu
ikhlas itu (tak perlu saya ulang berkali-kali), ilmu yang paling susah
aplikasinya. Jadi terkadang, lebih baik berjilbab kemudian dia sedikit demi
sedikit belajar kebaikan, daripada tak berjilbab dan akhirnya tak sama sekali
belajar kebaikan.
Jika kebaikan bukanlah hal yang susah dan menuntut kita
untuk memaksa, maka akan sulit mencari orang jahat di dunia ini. Karena naluri
manusia cenderung lebih condong kepada hal yang enak-enak. Sedangkan kita itu
manusia hanya makhluk yang lemah, sehingga perlu effort untuk memaksakan suatu
kebaikan.
Tapi bukan hal itu yang penting. Namun adalah bagaimana
islam itu merupakan agama yang universal Maka tidak bisa kita pisahkan
satu-satu, mengambil hanya sosialnya saja dengan melihat hubungan
kemanusiaannya baik, tidak bisa kita menilai kualitas islam seseorang baik
karena dia berbuat baik kepada sesamanya saja, atau tidak bisa juga kita sebut
kualitas islam seseorang baik karena dia rajin shalat dan puasa saja, tetapi islam
agama yang universal meliputi seluruh aspek ekonomi, sosial, budaya, seni, moral, dan sisi
kehidupan lainnya, jadi ikutilah agama islam secara kaaffah (menyeluruh)..
jangan setengah-setengah!
like this...
BalasHapus