mencoba menorehkan sebuah tinta hitam kehidupan... karena sejarah dicatat hanya dengan dua nuansa warna.. merah darah para pejuang dan tinta hitam para penulis....

Kamis, 14 April 2011

ISTANA IMPIAN




Beribu serpihan niat mulia
Berkeping-keping tak tersusun rata
Sendiri dalam diam terlarut asa
Merajut mimpi menjadi nyata
Menyusun azzam berbuih pahala

Harapan telah terurai dalam rintihan doa
Lafadz selalu terjaga dalam ritual
Tangis tak tersendu tiap sujud malam
Sabar bersandar  pada hati yang lapang

Selalu tampak kerutan kening dan rona wajah sendu
Memikirkan ribuan anak mengemis ilmu
Di pondok bambu kampung damai dalam asuhanmu

Da’wah bersangkar dalam genggaman iman
Jihad berpacu dalam titian jalan panjang
mengasuh mereka dalam buaian sayang
mengajarkan mereka agama Tuhan
mendidik mereka bahasa islam
Hanya berharap ridho Illahi bersemayam
Dalam setiap hembus nafas kehidupan

Tak sedikit mereka jatuh berceceran
Berserakan dan menusuk dari belakang
Tak sedikit mereka bertingkah seperti preman jalanan
Mencemarkan noda dalam putihnya iman
Menjatuhkan nama dalam hinar binar kejayaan
Tak sedikit mereka lupa akan amanah yang diberikan
Menginggalkan jutaan harapan yang telah dibangun bertahun-tahun silam

Asa sirna terkuak  kejamnya dunia
Hancur tertelan bisikan hawa
Setan mencengkeram lemahnya iman
Merebut ribuan istana impian

Terlalu banyak kekecewaan ditelan
Hanya diredam dengan lantunan istighfar

Meskipun kekacauan tak pernah lepas
Senyum selalu tersungging walau tak bebas
Wibawa selalu terjaga bak mutiara lautan luas
Karena kau yakin pertolongan Allah tak terbatas

Lapangnya hati tak tergolong dimensi
Teguhnya prinsip tak akan terhenti
Harapan itu tidak akan pernah mati
hingga sangkakala menggoyahkan bumi

IT’S NOT AN EASY WAY AS YOU SINK YOUR EYES TO BE A DOCTOR



Setelah sekian lama aku nyemplung di dunia kedokteran, ada beberapa fakta yang aku tangkap dari seorang dokter:
-          Dokter adalah satu-satunya orang yang dipercaya orang lain buat masukin racun ke dalam tubuhnya
-          Dokter itu bisa jadi malaikat penyelamat yang bisa nolongin orang, tapi dokter juga bisa jadi pembunuh no.1 di dunia.
-          Jadi dokter itu gampang buat masuk surga (jelas lah, kerjanya buat nolongin orang..), tapi lebih gampang buat masuk neraka (banyak motivasi terselubung di dalamnya yang orang awam gak tau)
Menjadi seorang dokter itu bukanlah suatu hal yang main-main, tanggungjawabnya besar, taruhannya nyawa, perbedaan antara kedokteran dengan bidang lain sudah sangat terasa bahkan sejak aku belum menginjakkan kaki ke bumi kedokteran, baru mulai pendaftaran kuliah, dengan harga yang berbeda sangat jauh dengan fakultas lainnya, dengan pesaing yang berat dari ribuan anak berprestasi dari sekolah2 favorit, kedokteran memang terkesan ekslusif dan lain daripada yang lain.
Itulah yang membuatku enggan memasuki dunia kedokteran, aku menganggap dunia itu terlalu ekslusif untukku yang hanya bermodalkan harapan dan do’a dari bapak dan ibu, dunia itu terlalu tinggi buatku yang hanya punya IQ pas-pasan dengan ranking borderline, aku merasa telah jauh terlempar dari asal dan latar belakangku yang hanya tinggal diam di pesantren kampung  yang bahkan internet saja belum masuk. Bagaimana caranya aku bisa bersaing dengan orang2 bermata sipit itu? Yang dalam hidupnya hanya mengenal belajar dan belajar.. sedangkan aku dari pesantren kampung yang hanya belajar kitab meskipun tidak mendalam dan sedikit ilmu umum. Guru yang mengajar mereka di sekolah favorit itu adalah guru-guru hebat tamatan perguruan tinggi besar bahkan paskasarjana pun ada, sedangkan guru-guru di pesantrenku adalah guru-guru dengan lulusan pesantren yang hanya bermodalkan niat ikhlas untuk mengajar, sarjana tafsir mengajarkan ilmu bahasa inggris, sarjana bahasa arab mengajar ilmu geografi, bahkan yang bukan sarjana pun mengajar sains. Sungguh jika bukan karena keikhlasan mereka untuk mengajar, kami tidak akan mendapatkan apa-apa.
Berbicara masalah uang adalah hal yang sensitif untuk orang-orang golongan menengah ke bawah sepertiku, untuk mendaftar kuliah kedokteran itu membutuhkan biaya yang tidak sedikit, jikalau petani sampai menjual petakan sawahnya yang sudah dia ayomi bertahun-tahun bahkan mungkin itu warisan nenek moyangnya, duit itu bahkan mengalahi orang jika hendak pergi haji, bapak adalah seorang guru swasta yang gajinya bahkan tidak cukup untuk membiayai kehidupanku disini, kalau saja bukan karena niat mereka yang sungguh-sungguh untuk menguliahkanku di sini, tidak tega rasanya aku kuliah di sini dan membuang-buang harta yang telah mereka kumpulkan dengan usaha yang tidak sebentar dan butuh waktu bertahun-tahun lamanya. Sempat aku menangis karena kehilangan beasiswa yang seharusnya aku berhak mendapatkannya. Sempat aku berontak dan tidak mau memasuki dunia kedokteran meski namaku sudah terdaftar menjadi mahasiswa fakultas kedokteran. Rasa bersalah itu terus menghantuiku, terlalu banyak menghabiskan uang hanya untuk kuliahku. Banyak hal yang membuatku enggan masuk ke sana, tapi selalu terkalahkan dengan teguhnya niat mereka untuk menguliahkanku, kulihat tumpukan amplop berisi uang yang telah di simpannya bertahun2 lamanya untuk biaya kuliahku. Bekerja 24 jam non stop pun dilakoni tanpa pernah aku mendengar keluhan kesah meski aku pikir gaji tak pernah sebanding dengan apa yang telah diusahakan. Selalu rasa syukur itu terucap jika sedikit saja mereka menerima rizki yang terkadang datang dengan cara yang tak pernah diduga.
Kini setelah 3 tahun lamanya aku terdampar di dunia kedokteran, banyak hal yang membuatku bisa membuka mata. Semakin aku mengerti bahwa ilmu Allah itu sangatlah luas dan aplikatif, dan hal ini semakin menyadarkanku untuk selalu bersyukur akan nikmat yang Dia berikan. Tak banyak orang di dunia ini yang seberuntung aku. Aku benar-benar menikmati dunia yang sangat istimewa ini. Pertama memasukinya seperti makhluk asing yang susah beradaptasi dengan lingkungan sekitarnya, susah bergaul, susah menangkap dan mencerna ilmu yang sudah diberikan, aku terus mengejarnya meski terkadang muncul kemalasan, bagaikan bayi yang dipaksa untuk berlari, dan susah mencari teman hingga akhirnya sekarang aku mendapatkan teman-teman seperjuangan yang tak pernah lelah untuk terus berjuang bersama. Satu pertanyataan guruku yang masih terngiang sampai sekarang dan membuatku bertahan di sini adalah “dengan fasilitas dan teknologi yang sama rata, saya yakin kalian mampu bersaing dengan mereka, meskipun kalian datang dari dunia pesantren kampung yang bahkan internet saja belum masuk”
Dulu aku berfikir bahwa jika kamu tidak bisa matematika, kamu tidak akan bisa masuk kedokteran, jika kamu lemah dalam science, kamu pasti susah menjebolkan dunia kedokteran, namun semakin aku mengerti bahwa kedokteran bukanlah suatu ilmu eksak, melainkan kedokteran adalah seni, tidak ada hukum mutlak dan pasti dalam ilmu kedokteran. Kedokteran bukan sekedar ilmu alam, kedokteran adalah ilmu kemanusiaan dan biopsikososial. Begitu luas lingkupnya, namun itu hanya setitik jika dibandingkan dengan ilmu Allah dalam semesta ini. Begitu susah menjangkaunya hingga aku terpuruk dan sempat pesimis untuk bisa mempelajarinya, tapi lihatlah, sudah 3 tahun lamanya aku bertahan. Dengan segala kerumitan ilmunya, tebal dan mahalnya buku-bukunya, semakin banyak membaca, semakin aku tidak mengerti dan semakin ingin aku mencari dan terus mencari. Mengerti dan menghafal adalah dua kombinasi yang tidak bisa dipisahkan. Dua-duanya harus aku kerjakan, jika tidak mau mengerjakannya, tak usahlah jadi mahasiswa kedokteran. Orang bilang, semalas-malasnya mahasiswa kedokteran, serajin-rajinnya mahasiswa sosial. Rasanya tidak mungkin mahasiswa kedokteran semalam tanpa buku. Karena jika tidak mempelajari teorinya, akan sulit untuk mengaplikasikannya. Karena kedokteran tidak hanya ilmu praktis, tapi juga teoritis.
Teori itu terlalu buram untukku menangkapnya. Banyak kata yang tidak aku mengerti. Banyak hal yang masih belum bisa dijelaskan. Banyak hal yang logikaku tidak terlalu tinggi untuk bisa memahaminya. Karena kita tidak bisa melihat dengan nyata hal-hal yang sangat detail dan sangat kecil ukurannya terkadang aku hanya membayangkan. Bahkan membayangkannya pun susah.
Setelah 3 tahun aku kuliah dengan jadwal yang padat dan pelajaran yang cukup membuatku pusing ditambah lagi skripsi yang mengerjakannya sangat dan sangat membosankan, aku tidak mau menjadi mahasiswa yang berjulukan “kupu-kupu” alias “kuliah-pulang-kuliah-pulang”, aku lebih senang menyibukkan diriku dalam kancah organisasi meskipun bisa dibilang aku lebih banyak merepotkannya daripada membantunya, karena sampai sekarangpun aku tidak lihai dalam memenej organisasi apapun, aku masih terlalu awam dan harus terus belajar dan belajar. Aku lebih senang dengan julukan “kura-kura” alias “kuliah-rapat-kuliah-rapat”. Hal ini salah satu hiburanku di tengah stressnya belajar kedokteran. Organisasi yang aku ikuti baik interna kampus maupun eksterna sangatlah bermanfaat dan berasa barakahnya. Dari mulai di BEM aku di bagian kajian studi dan profesi, di CIMSA (center of Indonesian medical student activity) aku dalam bidang professional exchange, dan di FULDFK (forum ukhuwah lembaga dakwah fakultas kedokteran) di bidang kajian keislaman. Tidak semuanya aku eksis sih, tapi setidaknya ada beberapa programnya yang aku ikuti dan aku handle untuk belajar bertanggungjawab terutama diri sendiri dan orang lain.
Banyak acara yang diselenggarain dari mulai kaderisasi, kakak angkat-adek angkat, kajian keislaman, qurban, training2 keprofesian, kajian2 studi, silaturahim dengan sesama FK dari universitas lain, semua membuatku makin bisa menikmati suasana belajar di dunia kedokteran. Sehingga akhirnya aku gak pernah merasakan kegilaan sampai tahap skizofrenia paranoid.

Masihkah ada tawa



Senin, 17 oktober 2010
wahai jiwa lusuh tak tersentuh
tiadakah tangismu mengeluh
wahai jiwa kering tak tersungging
beginikah mimpimu melenting

Tiada airmata,,
Tiada keluh kesah,,
begitu nyaman kau di sana
di tengah pahitnya dunia

masihkah tawamu melebur
melihat mereka tidur di atas empuknya kasur
sedang di bawah jembatan kau melajur

hanya dengan gelas putih kosong kau bekerja
tempatmu menyimpan harta

di mana jeritanmu itu ???
di mana tangis keluhmu itu ???
agar mereka tahu
betapa pahit derita hidupmu

tidakkah kau merasa terzalimi
di tangan merekalah pusakamu berbui
yang tak pernah sedikitpun kau temui
telah musnah oleh nafsu duniawi

sungguh aku mencintaimu, saudaraku!
tegarnya hatimu bak karang tak terkikis erosi
ku ingin belajar darimu makna hidup ini
hingga kutemui titik terang cahaya illahi
menggapai indahnya damai syurgawi

"Aroaitalladzii yukadzdzibu biddiin,,
fadzaalikalladzii yadu'ul yatiim,,
wa laa yahudhu alaa tho'amil miskiin,,,"

teruntukmu saudara-saudara penyemangatku,,
teruslah bertahan dalam titian jalanmu....

Top of Form
mimpi itu semakin dekat

16 oktober 2010
hari yang tak terduga
sidang penuh dengan paksa
tiada senyum dan tawa
hanya tegang yang ada

bantai membantai pun dibuka
bagai tentara kusiapkan senjata
badai perangpun telah tiba
kusambut dengan penuh sahaja

hari yang penuh kebahagiaan
ketika kau dinyatakan lulus ujian
gelar S.Ked akhirnya kau sandang
tangis haru penuh sambutan..

wahai, teman sejawat seperjuangan
tidakkah sudah lama dipertanyakan
tapi tak pernah muncul jawaban

"nak,, kapan kau lulus?"
"nak,, kapan kau kenakan jas putih itu?"
"nak,, klinik depan rumahmu sudah menunggu.."

ayah, ibu, kami di sini sedang berjuang
melawan berjuta rintangan
hanya doa kalian yang kugenggam

kini kubuktikan hasil kerjaku selama ini
meski harus tertatih dan terjatuh berulang kali
meski tak terlalu serius aku menggali
meski rasa malas sering menghampiri
meski rasa bosan dan jenuh sering menghantui

walau harus dengan degupan kencang jantung kalian,
semakin nyata langkah kita kedepan
walau jalan kita masih panjang,
mimpi itu semakin dekat, kawan!

inilah wujud nyata kasih Allah kepada kita,,
bersyukurlah masih bisa merasakannya,,

yarfa'illahulladziina amanuu minkum walladzina uutul ilma darojaatt....

jika bukan kau
dalam bisu layaknya patung
dalam harap yang tak berujung
dalam doa yang tak terhitung

entah malaikat apa yang selalu membisiki
mamasuki dan merasuk dalam lubuk hati
hingga keyakinan ini amatlah terpatri
tak goyah oleh beribu ambisi

jika bukan kau imamku nanti
hapuslah segala keyakinan ini
meski sudah menancap tajam
meski sudah mengakar dalam

ku ingin kau tetap menjadi pangeran sejati
menebarkan panji-panji islam tiap derap langkah kaki
tidak pantang oleh hawa nafsu birahi
kasih Allah selalu menyelimuti
sampai akhir hayatmu nanti....

Jakarta, 15 Oktober 2010
Tak ada yang seindah kepakan sayapmu
by Rosydina Robi'aqolbi on Sunday, 26 September 2010 at 10:59
di atas secarik kertas ini kugoreskan,
meski tak pernah ada kata yang pantas diucapkan
di atas belahan bumi ini kupijakkan,
meski tak ada tempat yang pantas menggantikan

membalas tulus doamu
di tempat terindah di sisimu

jika aisyah adalah wanita paling mulia,
maka bagiku engkaulah wanita paling mulia
jika cleopatra adalah wanita paling cantik,
maka bagiku engkaulah wanita paling cantik
jika kartini adalah wanita paling berkarisma saat itu,
maka bagiku engkaulah wanita paling berkarisma saat ini, dulu, dan sampai nanti

ibu...
meski sekilas kau tampak nyaman dalam singgasanamu
meski sekilas kau tampak anggun dalam bahasa tubuhmu
meski sekilas kau tampak kuat dalam cobaan hidupmu...

tak ada yang tahu...

begitu berat beban di pundakmu,menyaingi beratnya kiloan baja
begitu banyak kasus pelik menimpamu, mengalahkan jutaan bintang di angkasa
begitu luas beban tanggungjawabmu, hingga mampu menampis hamparan samudera,
begitu deras ujian menghadangmu,sederas hujan badai dunia

sampai terbersit dalam pikirku,
ibu mana yang sanggup menggantikanmu

dari urusan dapur hingga masalah negara,
dari urusan satu dua anak, sampai ribuan,
dari mengandung, menyusui hingga membesarkan
dari mengeja, mendidik dan menyekolahkan, sampai menikahkan,
dari merintis, mengelola, sampai mensukseskan,

betapa tidak engkau terlihat lebih tua dibandingkan wanita seusiamu,
betapa tidak guratan kerut dan helaian uban satu persatu menghampirimu,

tanpa mengharap imbalan,
malah bentakan,
tanpa mengharap jasa,
malah luapan amarah,
tak banyak yang mengertimu,

hanya senyum tulus yang kau harap,
hanya kesuksesan anak didik yang kau ingin,
hanya sentuhan kasih dan saling peduli yang ingin kau lihat,
hanya kedamaian,
tak salah orang memanggilmu,
"wahai, jiwa yang tenang..."

sungguh,,,
akan kupetikkan bintang yang paling terang untukmu,
akan kubawa bersama doa restumu,
sebagai kepakan sayap terindahku,
tak ada yang seindah sunggingan senyum di bibirmu,
dan tak ada yang seindah kepakan sayapmu
Bottom of Form

TUHAN.. INIKAH JALANKU…



Beribu serpihan teka-teki tak mampu ku lewati
Berjuta likuan jalan terjal tak mampu ku arungi
Kegagalan demi kegagalan terus terjadi
Tak sanggup bangun dan bangkit untuk kesekian kali

Tuhan inikah jalanku…..
Terus terpacu melalui arang rintang dan cobaan..

Tuhan..
Tuntunlah aku istiqomah di jalan Mu
Arahkan aku dalan dunia fana Mu
Jauhkan aku dari jahatnya musuh Mu
Bimbinglah aku menuju syurga Mu


Sekelumit tentang curahan hati




Selasa, 18 Mei 2010, dini hari, tidak seperti biasanya, seusai sholat subuh biasanya aku belajar, menghafal, mencatat logbook, dan mempersiapkan diri untuk menerima kuliah dan tugas-tugas kampus, pagi ini pun, ada tugas yang harusnya dikerjakan, tapi rasanya pikiran dan hati ini tidak tenang, tidak bisa diajak kompromi untuk melaksanakan tugas itu, saking tidak tenangnya, ingin rasanya menumpahkannya dalam pena dan kertas, ingin rasanya semua orang mengerti apa yang jadi beban pikiranku saat ini. Agar semua tau masalah yang ada dipikiranku dan bisa mendapatkan solusi dari pemikiran bersama. Tapi bagaimana cara agar semua orang mengerti? Apa aku harus berkoar2? Apa aku harus mem-publish tulisan ini? Sebetulnya sangat ingin melakukannya, tapi ada beberapa hal yang belum pantas untuk semua orang tahu, karena terlalu blak-blakan atau terlalu vulgarnya tulisan ini. entahlah, hanya ini yang bisa kulakukan. Aku berharap, kalian membaca tulisan ini menggunakan hati kalian, karena aku ga yakin kalian faham jika tidak benar2 kalian mencoba rasakan, tapi bagaimanapun aku berterimakasih telah bersedia membacanya, semoga tidak mual, muntah, dan sakit perut. Semoga ada manfaat yang bisa diambil dari tulisan ini.
Sebenarnya bukan berawal dari hari ini, sudah sejak dulu aku terbebani dengan pikiran itu, tapi semakin hari semakin berat, karena semakin habis sisa waktu untuk tiba saat menghadapinya, semakin hebat pikiran itu, semakin membuat aku mual dan pusing, semakin banyak menghabiskan air mata, dan semakin membuat berat badan ini makin berkurang.
Bukan ujian sumatif yang menjadi beban utama pikiranku, bukan tugas presentasi kasus yang membuat pusing sampe mau pecah kepalaku, bukan deadline riset yang memenuhi seluruh bagian otakku, bukan laporan LPJ yang selalu mengejar-ngejarku, bukan film yang paling banyak menghabiskan air mataku, bukan pula cowok yang selalu mengganggu tidurku, tapi semua fikiran, tenaga, air mata ini banyak kuhabiskan untukmu,, pondokku….
Jika sudah mendengar kata pondok, pasti yang terbayang adalah tempat yang damai, tempat yang nyaman untuk beribadah, suasana yang indah dalam nikmatnya islam, dan akan terbayang semua santri yang berlomba-lomba beribadah, berlomba-lomba dalam kebaikan, akan terbayang di dalamnya santri yang rajin belajar agama, rajin membaca kitab, dan suasana islam yang tercipta itu ada di dalam pondok, bukan tempat yang mengajarkan kesesatan, membiarkan waktu luang terbuang tak berarti, membiarkan kekerasan sana sini, membiarkan ketidak disiplinan terjadi, pondok seharusnya melahirkan kader-kader umat yang tangguh, dengan bekal agama yg mereka miliki, pondok seharusnya melahirkan santri-santri yang disiplin, berakhlaq, dan berprestasi, bukan malah melahirkan seorang preman, atau seorang pecundang.
Al-ishlah, jika menyebut nama itu, langsung terbayang bangunan sederhana yang berdiri di desa tempat aku menuntut ilmu, Al-ishlah, dengan namanya yang berarti damai, dengan tujuan dan harapan berdirinya, sungguh suatu tempat yang mulia, seharusnya menjadi tempat yang selalu dirahmati Allah SWT, seharusnya memiliki karakter seperti halnya pondok yang sebenarnya,
Memang tidak dipungkiri lagi, lulusan Al-Ishlah banyak yang bisa melanjutkan kuliah di perguruan tinggi negeri, banyak yang sudah sukses bekerja, dan itulah yang dibanggakan. Mereka selalu mengatakan bahwa Al-Ishlah merupakan pondok yang seimbang antara ilmu agama dan duniawinya, mereka bangga jika anak didiknya lulus melanjutkan kuliah di PTN, dan karena mereka memang banyak mengarahkan ke ilmu umum, mereka bahkan kurang mengarahkan anak didiknya ke perguruan tinggi agama islam untuk memperdalam lagi agama mereka.
Tapi kenapa yang aku rasakan berbeda? kenapa yang aku rasakan Al-ishlah jauh dari karakter pondok yang aku sebut sebelumnya di atas. Mengapa Al-Ishlah yang seharusnya adalah tempat memperdalam ilmu agama menjadi lebih condong ke Ilmu dunia? Menurutku dan menurut beberapa orang temanku,, Al-Ishlah sama sekali tidak seimbang antara ilmu umum dan agamanya selayaknya harapan yang telah dibangun bertahun-tahun lalu. Mungkin anda pun akan berpikiran sama sepertiku.
Boleh dibilang, dulu aku selalu semangat ketika belajar agama, duduk di depan dan mendengarkan dengan seksama, bersiap menerima segudang ilmu yang pastinya bermanfaat untuk bekal di masa depanku, selalu bersemangat dan tidak pernah absen kecuali ada alasan yang jelas. Nilai raport agamaku pun selalu mendapatkan nilai “jayyid jiddan”. Kalau boleh anda lihat sendiri, jika raportku di susun dari mulai awal kelas 1 MTS sampai kelas 3 MA, benar2 bersih dari predikat “jayyid”, dan semuanya adalah “jayyid jiddan”.
Tapi setelah aku lulus dan keluar dari pondok, aku merasa ilmuku tidak ada apa-apanya, aku merasa sangat rendah ilmu agamaku, aku merasa haus akan agama, dan aku merasa aku tidak mendapatkan bekal yang sesuai dengan harapanku, di sini aku berbicara sebagai alumni, yang pernah merasakan didikan dalam pesantren Al-Ishlah.

Sebenarnya aku juga tidak akan pernah merasa begitu, sampai ada orang-orang yang mengingatkan dan menyadarkanku bahwa pendidikan yang kamu dapat di Al-Ishlah sangatlah belum cukup untuk kamu pakai sebagai bekal masa depanmu, awalnya aku mengabaikan kata2 itu dari beberapa teman yang sempat mengucapakannya secara tidak langsung, tapi setelah lama berfikir dan seiring berjalannya waktu, memang begitulah kenyataan yang ku alami, aku bahkan merasa tidak mendapatkan apa-apa tentang ilmu keagamaan kecuali hanya sedikit sekali. Aku sangat berterimakasih buat teman2ku yang telah mengingatkan dan menyadarkanku, mereka selalu berfikir bahwa Al-Ishlah harus banyak dibenahi untuk menutupi banyak kekurangan yang ada, terimakasih teman,, orang-orang seperti kalianlah yang masih punya perhatian, yang masih mau berfikir dan menyumbangkan fikiran kalian untuk Al-Ishlah, subhanallah.. meski kalian hanya segelintir orang dan bisa dihitung dengan jari.
Aku juga sering bertukar fikiran dengan alumni-alumni pondok lain, dan aku merasa makin ciut dan makin malu ketika harus bercerita apa adanya tentang pondokku.
Sekali lagi aku berterimakasih pada mereka, kakak2, adik2, dan teman2, yang telah berupaya mengingatkanku, menyadarkanku betapa banyaknya sisi yang harus diperbaiki dari Al-Ishlah.
Sebagian mereka bilang, “sebenarnya kunci dari semuanya, ada pada asatidz, asatidzlah yang memegang peranan penting dalam pondok” sebagian dari mereka masih terus berfikir bahwa asatidzlah yang harus pertama kali dibenahi, diberikan ilmu aqidah dan wawasan islam yang lainnya sehingga bisa mengajarkan dan menerapkannya dipondok.
Kenyataan yang ada memang, asatidz yang sekarang ada, sebagian banyak dari mereka bukanlah mereka yang dari awal berniat dengan kutulusan dan keikhlasan hatinya untuk mengabdi di pondok. Meski mereka berkiprah dan berjuang banyak untuk pondok, tapi tidak tergambar ketulusan dan keikhlasan di jiwa mereka. Mereka hanya merasa kumpulan asatidz adalah kumpulan orang-orang yang terbuang, astaghfirullahal’adhim..
Sedangkan jika kita melihat astidz yang sudah dinilai bagus agamanya, pengalaman kepondokannya, penerapan ilmunya, dan sangatlah pantas untuk dijadikan uswatun hasanah, sangat pantas untuk mendidik dan mengayomi santri-santrinya, yang terlihat, mereka hanya sibuk dengan urusan mereka masing-masing, dan mereka lebih cenderung memikirkan kemajuan madrasahnya saja, memang madrasah semakin maju, bangunan semakin bagus, teknologi semakin canggih, laboratorium semakin berkembang, tapi hanya itu yang mereka fikirkan, bukan untuk kemajuan penerapan ilmu dalam keseharian para santri di pondok itu sendiri.
Aku sedih melihat banyaknya waktu luang yang tersedia untuk anak-anak pondok sekarang, sayang seribu sayang, kebanyakan dari mereka tidak pandai memanfaatkan waktu luang mereka, hal itu bukan mereka gunakan untuk berlomba-lomba beribadah, untuk mempelajari ilmu agama, mereka hanya mengandalkan apa yang mereka dapat di bangku sekolah saja, padahal sekolah agama mendapatkan jam yang bisa dihitung dengan jari di madrasah.
Mereka lebih memilih menggunakan waktu luang mereka untuk main bola, tidur sepuasnya, ke warnet, bersantai-santai ria, dan main2 saja.
Sungguh, setiap kali aku mengingat tentang pondok, beberapa butir air mata ini selalu jatuh. Banyak anak pondok yang tidak punya akhlaq, banyak dari mereka yang tidak jauh berbeda dengan preman. Akhir-akhir ini pun, sering mendengar beberapa dari mereka bertingkah yang aneh2, dan sering pula mendengar gunjingan orang-orang di luar sana. meskipun kita sudah menerapkan hukuman, dan sudah mengeluarkan beberapa orang. Apa memang Al-Ishlah ini bukan tempat orang2 mencari ilmu? Apa benar Al-Ishlah hanya buangan anak2 nakal? Apa benar Al-Ishlah malah melahirkan preman-preman dan pecundang? Astaghfirullahal’adhim,, sungguh mengenaskan… seakan-akan mereka tidak pernah mencicipi ilmu agama dipondok.
Dari curhatanku ini, aku sangat membutuhkan solusi, insyaallah segala upaya akan aku usahakan untuk pondokku tercinta ini.
Sangatlah besar harapanku, akan ada orang-orang yang kembali mengabdi di pondok dengan segala keikhlasan hati mereka, sungguh aku berharap pada kalian, teman2, kakak2, adik2, yang sudah mendapatkan pengalaman lebih banyak dalam memperdalam ilmu agama kalian di antah berantah sana, sungguh aku mengharapkan kalian kembali, untuk bersama-sama kita majukan Al-Ishlah, untuk bersama kita benahi semua kebobrokan yang ada, dan untuk bersama kita tanamkan suasana ibadah, suasana islam yang damai dalam diri masing-masing kita dan dalam lingkungan kita.
Tapi aku kecewa, ketika mendengar dari salah seorang ustadzku, salah seorang pejuang pondokku, ketika dia berusaha mengajak mereka, orang-orang yang sudah banyak belajar dan memperdalam ilmu agama mereka untuk kembali ke pondok, tapi mereka selalu menolak. Sudah berbagai upaya untuk membujuk dan merayu mereka untuk kembali, tapi tetap saja tidak mau, tidak ada satupun dari mereka tidak menolak. Banyak alasan yang mereka lontarkan ketika diajak untuk kembali untuk membenahi pondokku, bahkan ada salah seorang dari mereka yang beralasan “dakwah itu bukan di tempat yang agamanya sudah bagus”, sungguh amat sangat kecewa aku mendengarnya, seharusnya mereka lebih faham.
Apa karena betapa rusaknya dan bobroknya Al-ishlah? Apa saking malasnya mereka mengurus preman2 al-ishlah? Apa karena sangat tidak berkesannya Al-Ishlah untuk mereka? Sampai sekarang, aku belum tahu jawabannya, mereka lebih memilih mengabdi di tempat lain, mereka lebih suka pergi dan berdakwah ke luar jawa, ke pulau antah berantah sana, ga tau apa yang ada di fikiran mereka, sangat susah untuk mengajak mereka kembali. Sungguh,, aku kecewa.
Karena kalianlah solusi untuk masa depan Al-Ishlah menjadi lebih baik, saat ini, yang ada di pikiranku hanya itu, hanya kalian tumpuan harapan ku, karena kalian yang bisa mengubahnya, tanpa kalian, sengoyo apapun usaha yang kita lakukan sekarang, hasilnya tetap seperti ini, untuk itu aku sangat berharap pada kalian, karena aku butuh waktu lebih lama dan usaha yang lebih keras untuk belajar agama dibandingkan dengan kalian di sana, aku bukanlah orang yang faham tentang agama, aku bukanlah orang yang istimewa, aku hanyalah orang yang kebetulan dititipi amanah mulia itu dan aku hanya mencoba untuk menjalankannya. Aku tidak akan menganggap ini semua sebagai beban beratku jika aku mempunyai sayap-sayap penguatku, mereka yang akan selalu mendukungku, selalu pergi bersamaku, sehingga aku bisa terbang tinggi dan tercapailah apa yang sekian lama kita cita-citakan.. dan kalianlah sayap-sayap itu, saudaraku……