mencoba menorehkan sebuah tinta hitam kehidupan... karena sejarah dicatat hanya dengan dua nuansa warna.. merah darah para pejuang dan tinta hitam para penulis....

Kamis, 14 April 2011

Sekelumit tentang curahan hati




Selasa, 18 Mei 2010, dini hari, tidak seperti biasanya, seusai sholat subuh biasanya aku belajar, menghafal, mencatat logbook, dan mempersiapkan diri untuk menerima kuliah dan tugas-tugas kampus, pagi ini pun, ada tugas yang harusnya dikerjakan, tapi rasanya pikiran dan hati ini tidak tenang, tidak bisa diajak kompromi untuk melaksanakan tugas itu, saking tidak tenangnya, ingin rasanya menumpahkannya dalam pena dan kertas, ingin rasanya semua orang mengerti apa yang jadi beban pikiranku saat ini. Agar semua tau masalah yang ada dipikiranku dan bisa mendapatkan solusi dari pemikiran bersama. Tapi bagaimana cara agar semua orang mengerti? Apa aku harus berkoar2? Apa aku harus mem-publish tulisan ini? Sebetulnya sangat ingin melakukannya, tapi ada beberapa hal yang belum pantas untuk semua orang tahu, karena terlalu blak-blakan atau terlalu vulgarnya tulisan ini. entahlah, hanya ini yang bisa kulakukan. Aku berharap, kalian membaca tulisan ini menggunakan hati kalian, karena aku ga yakin kalian faham jika tidak benar2 kalian mencoba rasakan, tapi bagaimanapun aku berterimakasih telah bersedia membacanya, semoga tidak mual, muntah, dan sakit perut. Semoga ada manfaat yang bisa diambil dari tulisan ini.
Sebenarnya bukan berawal dari hari ini, sudah sejak dulu aku terbebani dengan pikiran itu, tapi semakin hari semakin berat, karena semakin habis sisa waktu untuk tiba saat menghadapinya, semakin hebat pikiran itu, semakin membuat aku mual dan pusing, semakin banyak menghabiskan air mata, dan semakin membuat berat badan ini makin berkurang.
Bukan ujian sumatif yang menjadi beban utama pikiranku, bukan tugas presentasi kasus yang membuat pusing sampe mau pecah kepalaku, bukan deadline riset yang memenuhi seluruh bagian otakku, bukan laporan LPJ yang selalu mengejar-ngejarku, bukan film yang paling banyak menghabiskan air mataku, bukan pula cowok yang selalu mengganggu tidurku, tapi semua fikiran, tenaga, air mata ini banyak kuhabiskan untukmu,, pondokku….
Jika sudah mendengar kata pondok, pasti yang terbayang adalah tempat yang damai, tempat yang nyaman untuk beribadah, suasana yang indah dalam nikmatnya islam, dan akan terbayang semua santri yang berlomba-lomba beribadah, berlomba-lomba dalam kebaikan, akan terbayang di dalamnya santri yang rajin belajar agama, rajin membaca kitab, dan suasana islam yang tercipta itu ada di dalam pondok, bukan tempat yang mengajarkan kesesatan, membiarkan waktu luang terbuang tak berarti, membiarkan kekerasan sana sini, membiarkan ketidak disiplinan terjadi, pondok seharusnya melahirkan kader-kader umat yang tangguh, dengan bekal agama yg mereka miliki, pondok seharusnya melahirkan santri-santri yang disiplin, berakhlaq, dan berprestasi, bukan malah melahirkan seorang preman, atau seorang pecundang.
Al-ishlah, jika menyebut nama itu, langsung terbayang bangunan sederhana yang berdiri di desa tempat aku menuntut ilmu, Al-ishlah, dengan namanya yang berarti damai, dengan tujuan dan harapan berdirinya, sungguh suatu tempat yang mulia, seharusnya menjadi tempat yang selalu dirahmati Allah SWT, seharusnya memiliki karakter seperti halnya pondok yang sebenarnya,
Memang tidak dipungkiri lagi, lulusan Al-Ishlah banyak yang bisa melanjutkan kuliah di perguruan tinggi negeri, banyak yang sudah sukses bekerja, dan itulah yang dibanggakan. Mereka selalu mengatakan bahwa Al-Ishlah merupakan pondok yang seimbang antara ilmu agama dan duniawinya, mereka bangga jika anak didiknya lulus melanjutkan kuliah di PTN, dan karena mereka memang banyak mengarahkan ke ilmu umum, mereka bahkan kurang mengarahkan anak didiknya ke perguruan tinggi agama islam untuk memperdalam lagi agama mereka.
Tapi kenapa yang aku rasakan berbeda? kenapa yang aku rasakan Al-ishlah jauh dari karakter pondok yang aku sebut sebelumnya di atas. Mengapa Al-Ishlah yang seharusnya adalah tempat memperdalam ilmu agama menjadi lebih condong ke Ilmu dunia? Menurutku dan menurut beberapa orang temanku,, Al-Ishlah sama sekali tidak seimbang antara ilmu umum dan agamanya selayaknya harapan yang telah dibangun bertahun-tahun lalu. Mungkin anda pun akan berpikiran sama sepertiku.
Boleh dibilang, dulu aku selalu semangat ketika belajar agama, duduk di depan dan mendengarkan dengan seksama, bersiap menerima segudang ilmu yang pastinya bermanfaat untuk bekal di masa depanku, selalu bersemangat dan tidak pernah absen kecuali ada alasan yang jelas. Nilai raport agamaku pun selalu mendapatkan nilai “jayyid jiddan”. Kalau boleh anda lihat sendiri, jika raportku di susun dari mulai awal kelas 1 MTS sampai kelas 3 MA, benar2 bersih dari predikat “jayyid”, dan semuanya adalah “jayyid jiddan”.
Tapi setelah aku lulus dan keluar dari pondok, aku merasa ilmuku tidak ada apa-apanya, aku merasa sangat rendah ilmu agamaku, aku merasa haus akan agama, dan aku merasa aku tidak mendapatkan bekal yang sesuai dengan harapanku, di sini aku berbicara sebagai alumni, yang pernah merasakan didikan dalam pesantren Al-Ishlah.

Sebenarnya aku juga tidak akan pernah merasa begitu, sampai ada orang-orang yang mengingatkan dan menyadarkanku bahwa pendidikan yang kamu dapat di Al-Ishlah sangatlah belum cukup untuk kamu pakai sebagai bekal masa depanmu, awalnya aku mengabaikan kata2 itu dari beberapa teman yang sempat mengucapakannya secara tidak langsung, tapi setelah lama berfikir dan seiring berjalannya waktu, memang begitulah kenyataan yang ku alami, aku bahkan merasa tidak mendapatkan apa-apa tentang ilmu keagamaan kecuali hanya sedikit sekali. Aku sangat berterimakasih buat teman2ku yang telah mengingatkan dan menyadarkanku, mereka selalu berfikir bahwa Al-Ishlah harus banyak dibenahi untuk menutupi banyak kekurangan yang ada, terimakasih teman,, orang-orang seperti kalianlah yang masih punya perhatian, yang masih mau berfikir dan menyumbangkan fikiran kalian untuk Al-Ishlah, subhanallah.. meski kalian hanya segelintir orang dan bisa dihitung dengan jari.
Aku juga sering bertukar fikiran dengan alumni-alumni pondok lain, dan aku merasa makin ciut dan makin malu ketika harus bercerita apa adanya tentang pondokku.
Sekali lagi aku berterimakasih pada mereka, kakak2, adik2, dan teman2, yang telah berupaya mengingatkanku, menyadarkanku betapa banyaknya sisi yang harus diperbaiki dari Al-Ishlah.
Sebagian mereka bilang, “sebenarnya kunci dari semuanya, ada pada asatidz, asatidzlah yang memegang peranan penting dalam pondok” sebagian dari mereka masih terus berfikir bahwa asatidzlah yang harus pertama kali dibenahi, diberikan ilmu aqidah dan wawasan islam yang lainnya sehingga bisa mengajarkan dan menerapkannya dipondok.
Kenyataan yang ada memang, asatidz yang sekarang ada, sebagian banyak dari mereka bukanlah mereka yang dari awal berniat dengan kutulusan dan keikhlasan hatinya untuk mengabdi di pondok. Meski mereka berkiprah dan berjuang banyak untuk pondok, tapi tidak tergambar ketulusan dan keikhlasan di jiwa mereka. Mereka hanya merasa kumpulan asatidz adalah kumpulan orang-orang yang terbuang, astaghfirullahal’adhim..
Sedangkan jika kita melihat astidz yang sudah dinilai bagus agamanya, pengalaman kepondokannya, penerapan ilmunya, dan sangatlah pantas untuk dijadikan uswatun hasanah, sangat pantas untuk mendidik dan mengayomi santri-santrinya, yang terlihat, mereka hanya sibuk dengan urusan mereka masing-masing, dan mereka lebih cenderung memikirkan kemajuan madrasahnya saja, memang madrasah semakin maju, bangunan semakin bagus, teknologi semakin canggih, laboratorium semakin berkembang, tapi hanya itu yang mereka fikirkan, bukan untuk kemajuan penerapan ilmu dalam keseharian para santri di pondok itu sendiri.
Aku sedih melihat banyaknya waktu luang yang tersedia untuk anak-anak pondok sekarang, sayang seribu sayang, kebanyakan dari mereka tidak pandai memanfaatkan waktu luang mereka, hal itu bukan mereka gunakan untuk berlomba-lomba beribadah, untuk mempelajari ilmu agama, mereka hanya mengandalkan apa yang mereka dapat di bangku sekolah saja, padahal sekolah agama mendapatkan jam yang bisa dihitung dengan jari di madrasah.
Mereka lebih memilih menggunakan waktu luang mereka untuk main bola, tidur sepuasnya, ke warnet, bersantai-santai ria, dan main2 saja.
Sungguh, setiap kali aku mengingat tentang pondok, beberapa butir air mata ini selalu jatuh. Banyak anak pondok yang tidak punya akhlaq, banyak dari mereka yang tidak jauh berbeda dengan preman. Akhir-akhir ini pun, sering mendengar beberapa dari mereka bertingkah yang aneh2, dan sering pula mendengar gunjingan orang-orang di luar sana. meskipun kita sudah menerapkan hukuman, dan sudah mengeluarkan beberapa orang. Apa memang Al-Ishlah ini bukan tempat orang2 mencari ilmu? Apa benar Al-Ishlah hanya buangan anak2 nakal? Apa benar Al-Ishlah malah melahirkan preman-preman dan pecundang? Astaghfirullahal’adhim,, sungguh mengenaskan… seakan-akan mereka tidak pernah mencicipi ilmu agama dipondok.
Dari curhatanku ini, aku sangat membutuhkan solusi, insyaallah segala upaya akan aku usahakan untuk pondokku tercinta ini.
Sangatlah besar harapanku, akan ada orang-orang yang kembali mengabdi di pondok dengan segala keikhlasan hati mereka, sungguh aku berharap pada kalian, teman2, kakak2, adik2, yang sudah mendapatkan pengalaman lebih banyak dalam memperdalam ilmu agama kalian di antah berantah sana, sungguh aku mengharapkan kalian kembali, untuk bersama-sama kita majukan Al-Ishlah, untuk bersama kita benahi semua kebobrokan yang ada, dan untuk bersama kita tanamkan suasana ibadah, suasana islam yang damai dalam diri masing-masing kita dan dalam lingkungan kita.
Tapi aku kecewa, ketika mendengar dari salah seorang ustadzku, salah seorang pejuang pondokku, ketika dia berusaha mengajak mereka, orang-orang yang sudah banyak belajar dan memperdalam ilmu agama mereka untuk kembali ke pondok, tapi mereka selalu menolak. Sudah berbagai upaya untuk membujuk dan merayu mereka untuk kembali, tapi tetap saja tidak mau, tidak ada satupun dari mereka tidak menolak. Banyak alasan yang mereka lontarkan ketika diajak untuk kembali untuk membenahi pondokku, bahkan ada salah seorang dari mereka yang beralasan “dakwah itu bukan di tempat yang agamanya sudah bagus”, sungguh amat sangat kecewa aku mendengarnya, seharusnya mereka lebih faham.
Apa karena betapa rusaknya dan bobroknya Al-ishlah? Apa saking malasnya mereka mengurus preman2 al-ishlah? Apa karena sangat tidak berkesannya Al-Ishlah untuk mereka? Sampai sekarang, aku belum tahu jawabannya, mereka lebih memilih mengabdi di tempat lain, mereka lebih suka pergi dan berdakwah ke luar jawa, ke pulau antah berantah sana, ga tau apa yang ada di fikiran mereka, sangat susah untuk mengajak mereka kembali. Sungguh,, aku kecewa.
Karena kalianlah solusi untuk masa depan Al-Ishlah menjadi lebih baik, saat ini, yang ada di pikiranku hanya itu, hanya kalian tumpuan harapan ku, karena kalian yang bisa mengubahnya, tanpa kalian, sengoyo apapun usaha yang kita lakukan sekarang, hasilnya tetap seperti ini, untuk itu aku sangat berharap pada kalian, karena aku butuh waktu lebih lama dan usaha yang lebih keras untuk belajar agama dibandingkan dengan kalian di sana, aku bukanlah orang yang faham tentang agama, aku bukanlah orang yang istimewa, aku hanyalah orang yang kebetulan dititipi amanah mulia itu dan aku hanya mencoba untuk menjalankannya. Aku tidak akan menganggap ini semua sebagai beban beratku jika aku mempunyai sayap-sayap penguatku, mereka yang akan selalu mendukungku, selalu pergi bersamaku, sehingga aku bisa terbang tinggi dan tercapailah apa yang sekian lama kita cita-citakan.. dan kalianlah sayap-sayap itu, saudaraku……




Tidak ada komentar:

Posting Komentar