mencoba menorehkan sebuah tinta hitam kehidupan... karena sejarah dicatat hanya dengan dua nuansa warna.. merah darah para pejuang dan tinta hitam para penulis....

Kamis, 14 April 2011

Masihkah ada tawa



Senin, 17 oktober 2010
wahai jiwa lusuh tak tersentuh
tiadakah tangismu mengeluh
wahai jiwa kering tak tersungging
beginikah mimpimu melenting

Tiada airmata,,
Tiada keluh kesah,,
begitu nyaman kau di sana
di tengah pahitnya dunia

masihkah tawamu melebur
melihat mereka tidur di atas empuknya kasur
sedang di bawah jembatan kau melajur

hanya dengan gelas putih kosong kau bekerja
tempatmu menyimpan harta

di mana jeritanmu itu ???
di mana tangis keluhmu itu ???
agar mereka tahu
betapa pahit derita hidupmu

tidakkah kau merasa terzalimi
di tangan merekalah pusakamu berbui
yang tak pernah sedikitpun kau temui
telah musnah oleh nafsu duniawi

sungguh aku mencintaimu, saudaraku!
tegarnya hatimu bak karang tak terkikis erosi
ku ingin belajar darimu makna hidup ini
hingga kutemui titik terang cahaya illahi
menggapai indahnya damai syurgawi

"Aroaitalladzii yukadzdzibu biddiin,,
fadzaalikalladzii yadu'ul yatiim,,
wa laa yahudhu alaa tho'amil miskiin,,,"

teruntukmu saudara-saudara penyemangatku,,
teruslah bertahan dalam titian jalanmu....

Top of Form
mimpi itu semakin dekat

16 oktober 2010
hari yang tak terduga
sidang penuh dengan paksa
tiada senyum dan tawa
hanya tegang yang ada

bantai membantai pun dibuka
bagai tentara kusiapkan senjata
badai perangpun telah tiba
kusambut dengan penuh sahaja

hari yang penuh kebahagiaan
ketika kau dinyatakan lulus ujian
gelar S.Ked akhirnya kau sandang
tangis haru penuh sambutan..

wahai, teman sejawat seperjuangan
tidakkah sudah lama dipertanyakan
tapi tak pernah muncul jawaban

"nak,, kapan kau lulus?"
"nak,, kapan kau kenakan jas putih itu?"
"nak,, klinik depan rumahmu sudah menunggu.."

ayah, ibu, kami di sini sedang berjuang
melawan berjuta rintangan
hanya doa kalian yang kugenggam

kini kubuktikan hasil kerjaku selama ini
meski harus tertatih dan terjatuh berulang kali
meski tak terlalu serius aku menggali
meski rasa malas sering menghampiri
meski rasa bosan dan jenuh sering menghantui

walau harus dengan degupan kencang jantung kalian,
semakin nyata langkah kita kedepan
walau jalan kita masih panjang,
mimpi itu semakin dekat, kawan!

inilah wujud nyata kasih Allah kepada kita,,
bersyukurlah masih bisa merasakannya,,

yarfa'illahulladziina amanuu minkum walladzina uutul ilma darojaatt....

jika bukan kau
dalam bisu layaknya patung
dalam harap yang tak berujung
dalam doa yang tak terhitung

entah malaikat apa yang selalu membisiki
mamasuki dan merasuk dalam lubuk hati
hingga keyakinan ini amatlah terpatri
tak goyah oleh beribu ambisi

jika bukan kau imamku nanti
hapuslah segala keyakinan ini
meski sudah menancap tajam
meski sudah mengakar dalam

ku ingin kau tetap menjadi pangeran sejati
menebarkan panji-panji islam tiap derap langkah kaki
tidak pantang oleh hawa nafsu birahi
kasih Allah selalu menyelimuti
sampai akhir hayatmu nanti....

Jakarta, 15 Oktober 2010
Tak ada yang seindah kepakan sayapmu
by Rosydina Robi'aqolbi on Sunday, 26 September 2010 at 10:59
di atas secarik kertas ini kugoreskan,
meski tak pernah ada kata yang pantas diucapkan
di atas belahan bumi ini kupijakkan,
meski tak ada tempat yang pantas menggantikan

membalas tulus doamu
di tempat terindah di sisimu

jika aisyah adalah wanita paling mulia,
maka bagiku engkaulah wanita paling mulia
jika cleopatra adalah wanita paling cantik,
maka bagiku engkaulah wanita paling cantik
jika kartini adalah wanita paling berkarisma saat itu,
maka bagiku engkaulah wanita paling berkarisma saat ini, dulu, dan sampai nanti

ibu...
meski sekilas kau tampak nyaman dalam singgasanamu
meski sekilas kau tampak anggun dalam bahasa tubuhmu
meski sekilas kau tampak kuat dalam cobaan hidupmu...

tak ada yang tahu...

begitu berat beban di pundakmu,menyaingi beratnya kiloan baja
begitu banyak kasus pelik menimpamu, mengalahkan jutaan bintang di angkasa
begitu luas beban tanggungjawabmu, hingga mampu menampis hamparan samudera,
begitu deras ujian menghadangmu,sederas hujan badai dunia

sampai terbersit dalam pikirku,
ibu mana yang sanggup menggantikanmu

dari urusan dapur hingga masalah negara,
dari urusan satu dua anak, sampai ribuan,
dari mengandung, menyusui hingga membesarkan
dari mengeja, mendidik dan menyekolahkan, sampai menikahkan,
dari merintis, mengelola, sampai mensukseskan,

betapa tidak engkau terlihat lebih tua dibandingkan wanita seusiamu,
betapa tidak guratan kerut dan helaian uban satu persatu menghampirimu,

tanpa mengharap imbalan,
malah bentakan,
tanpa mengharap jasa,
malah luapan amarah,
tak banyak yang mengertimu,

hanya senyum tulus yang kau harap,
hanya kesuksesan anak didik yang kau ingin,
hanya sentuhan kasih dan saling peduli yang ingin kau lihat,
hanya kedamaian,
tak salah orang memanggilmu,
"wahai, jiwa yang tenang..."

sungguh,,,
akan kupetikkan bintang yang paling terang untukmu,
akan kubawa bersama doa restumu,
sebagai kepakan sayap terindahku,
tak ada yang seindah sunggingan senyum di bibirmu,
dan tak ada yang seindah kepakan sayapmu
Bottom of Form

Tidak ada komentar:

Posting Komentar