mencoba menorehkan sebuah tinta hitam kehidupan... karena sejarah dicatat hanya dengan dua nuansa warna.. merah darah para pejuang dan tinta hitam para penulis....

Kamis, 14 April 2011

IT’S NOT AN EASY WAY AS YOU SINK YOUR EYES TO BE A DOCTOR



Setelah sekian lama aku nyemplung di dunia kedokteran, ada beberapa fakta yang aku tangkap dari seorang dokter:
-          Dokter adalah satu-satunya orang yang dipercaya orang lain buat masukin racun ke dalam tubuhnya
-          Dokter itu bisa jadi malaikat penyelamat yang bisa nolongin orang, tapi dokter juga bisa jadi pembunuh no.1 di dunia.
-          Jadi dokter itu gampang buat masuk surga (jelas lah, kerjanya buat nolongin orang..), tapi lebih gampang buat masuk neraka (banyak motivasi terselubung di dalamnya yang orang awam gak tau)
Menjadi seorang dokter itu bukanlah suatu hal yang main-main, tanggungjawabnya besar, taruhannya nyawa, perbedaan antara kedokteran dengan bidang lain sudah sangat terasa bahkan sejak aku belum menginjakkan kaki ke bumi kedokteran, baru mulai pendaftaran kuliah, dengan harga yang berbeda sangat jauh dengan fakultas lainnya, dengan pesaing yang berat dari ribuan anak berprestasi dari sekolah2 favorit, kedokteran memang terkesan ekslusif dan lain daripada yang lain.
Itulah yang membuatku enggan memasuki dunia kedokteran, aku menganggap dunia itu terlalu ekslusif untukku yang hanya bermodalkan harapan dan do’a dari bapak dan ibu, dunia itu terlalu tinggi buatku yang hanya punya IQ pas-pasan dengan ranking borderline, aku merasa telah jauh terlempar dari asal dan latar belakangku yang hanya tinggal diam di pesantren kampung  yang bahkan internet saja belum masuk. Bagaimana caranya aku bisa bersaing dengan orang2 bermata sipit itu? Yang dalam hidupnya hanya mengenal belajar dan belajar.. sedangkan aku dari pesantren kampung yang hanya belajar kitab meskipun tidak mendalam dan sedikit ilmu umum. Guru yang mengajar mereka di sekolah favorit itu adalah guru-guru hebat tamatan perguruan tinggi besar bahkan paskasarjana pun ada, sedangkan guru-guru di pesantrenku adalah guru-guru dengan lulusan pesantren yang hanya bermodalkan niat ikhlas untuk mengajar, sarjana tafsir mengajarkan ilmu bahasa inggris, sarjana bahasa arab mengajar ilmu geografi, bahkan yang bukan sarjana pun mengajar sains. Sungguh jika bukan karena keikhlasan mereka untuk mengajar, kami tidak akan mendapatkan apa-apa.
Berbicara masalah uang adalah hal yang sensitif untuk orang-orang golongan menengah ke bawah sepertiku, untuk mendaftar kuliah kedokteran itu membutuhkan biaya yang tidak sedikit, jikalau petani sampai menjual petakan sawahnya yang sudah dia ayomi bertahun-tahun bahkan mungkin itu warisan nenek moyangnya, duit itu bahkan mengalahi orang jika hendak pergi haji, bapak adalah seorang guru swasta yang gajinya bahkan tidak cukup untuk membiayai kehidupanku disini, kalau saja bukan karena niat mereka yang sungguh-sungguh untuk menguliahkanku di sini, tidak tega rasanya aku kuliah di sini dan membuang-buang harta yang telah mereka kumpulkan dengan usaha yang tidak sebentar dan butuh waktu bertahun-tahun lamanya. Sempat aku menangis karena kehilangan beasiswa yang seharusnya aku berhak mendapatkannya. Sempat aku berontak dan tidak mau memasuki dunia kedokteran meski namaku sudah terdaftar menjadi mahasiswa fakultas kedokteran. Rasa bersalah itu terus menghantuiku, terlalu banyak menghabiskan uang hanya untuk kuliahku. Banyak hal yang membuatku enggan masuk ke sana, tapi selalu terkalahkan dengan teguhnya niat mereka untuk menguliahkanku, kulihat tumpukan amplop berisi uang yang telah di simpannya bertahun2 lamanya untuk biaya kuliahku. Bekerja 24 jam non stop pun dilakoni tanpa pernah aku mendengar keluhan kesah meski aku pikir gaji tak pernah sebanding dengan apa yang telah diusahakan. Selalu rasa syukur itu terucap jika sedikit saja mereka menerima rizki yang terkadang datang dengan cara yang tak pernah diduga.
Kini setelah 3 tahun lamanya aku terdampar di dunia kedokteran, banyak hal yang membuatku bisa membuka mata. Semakin aku mengerti bahwa ilmu Allah itu sangatlah luas dan aplikatif, dan hal ini semakin menyadarkanku untuk selalu bersyukur akan nikmat yang Dia berikan. Tak banyak orang di dunia ini yang seberuntung aku. Aku benar-benar menikmati dunia yang sangat istimewa ini. Pertama memasukinya seperti makhluk asing yang susah beradaptasi dengan lingkungan sekitarnya, susah bergaul, susah menangkap dan mencerna ilmu yang sudah diberikan, aku terus mengejarnya meski terkadang muncul kemalasan, bagaikan bayi yang dipaksa untuk berlari, dan susah mencari teman hingga akhirnya sekarang aku mendapatkan teman-teman seperjuangan yang tak pernah lelah untuk terus berjuang bersama. Satu pertanyataan guruku yang masih terngiang sampai sekarang dan membuatku bertahan di sini adalah “dengan fasilitas dan teknologi yang sama rata, saya yakin kalian mampu bersaing dengan mereka, meskipun kalian datang dari dunia pesantren kampung yang bahkan internet saja belum masuk”
Dulu aku berfikir bahwa jika kamu tidak bisa matematika, kamu tidak akan bisa masuk kedokteran, jika kamu lemah dalam science, kamu pasti susah menjebolkan dunia kedokteran, namun semakin aku mengerti bahwa kedokteran bukanlah suatu ilmu eksak, melainkan kedokteran adalah seni, tidak ada hukum mutlak dan pasti dalam ilmu kedokteran. Kedokteran bukan sekedar ilmu alam, kedokteran adalah ilmu kemanusiaan dan biopsikososial. Begitu luas lingkupnya, namun itu hanya setitik jika dibandingkan dengan ilmu Allah dalam semesta ini. Begitu susah menjangkaunya hingga aku terpuruk dan sempat pesimis untuk bisa mempelajarinya, tapi lihatlah, sudah 3 tahun lamanya aku bertahan. Dengan segala kerumitan ilmunya, tebal dan mahalnya buku-bukunya, semakin banyak membaca, semakin aku tidak mengerti dan semakin ingin aku mencari dan terus mencari. Mengerti dan menghafal adalah dua kombinasi yang tidak bisa dipisahkan. Dua-duanya harus aku kerjakan, jika tidak mau mengerjakannya, tak usahlah jadi mahasiswa kedokteran. Orang bilang, semalas-malasnya mahasiswa kedokteran, serajin-rajinnya mahasiswa sosial. Rasanya tidak mungkin mahasiswa kedokteran semalam tanpa buku. Karena jika tidak mempelajari teorinya, akan sulit untuk mengaplikasikannya. Karena kedokteran tidak hanya ilmu praktis, tapi juga teoritis.
Teori itu terlalu buram untukku menangkapnya. Banyak kata yang tidak aku mengerti. Banyak hal yang masih belum bisa dijelaskan. Banyak hal yang logikaku tidak terlalu tinggi untuk bisa memahaminya. Karena kita tidak bisa melihat dengan nyata hal-hal yang sangat detail dan sangat kecil ukurannya terkadang aku hanya membayangkan. Bahkan membayangkannya pun susah.
Setelah 3 tahun aku kuliah dengan jadwal yang padat dan pelajaran yang cukup membuatku pusing ditambah lagi skripsi yang mengerjakannya sangat dan sangat membosankan, aku tidak mau menjadi mahasiswa yang berjulukan “kupu-kupu” alias “kuliah-pulang-kuliah-pulang”, aku lebih senang menyibukkan diriku dalam kancah organisasi meskipun bisa dibilang aku lebih banyak merepotkannya daripada membantunya, karena sampai sekarangpun aku tidak lihai dalam memenej organisasi apapun, aku masih terlalu awam dan harus terus belajar dan belajar. Aku lebih senang dengan julukan “kura-kura” alias “kuliah-rapat-kuliah-rapat”. Hal ini salah satu hiburanku di tengah stressnya belajar kedokteran. Organisasi yang aku ikuti baik interna kampus maupun eksterna sangatlah bermanfaat dan berasa barakahnya. Dari mulai di BEM aku di bagian kajian studi dan profesi, di CIMSA (center of Indonesian medical student activity) aku dalam bidang professional exchange, dan di FULDFK (forum ukhuwah lembaga dakwah fakultas kedokteran) di bidang kajian keislaman. Tidak semuanya aku eksis sih, tapi setidaknya ada beberapa programnya yang aku ikuti dan aku handle untuk belajar bertanggungjawab terutama diri sendiri dan orang lain.
Banyak acara yang diselenggarain dari mulai kaderisasi, kakak angkat-adek angkat, kajian keislaman, qurban, training2 keprofesian, kajian2 studi, silaturahim dengan sesama FK dari universitas lain, semua membuatku makin bisa menikmati suasana belajar di dunia kedokteran. Sehingga akhirnya aku gak pernah merasakan kegilaan sampai tahap skizofrenia paranoid.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar